5 Alasan Seorang Dokter (Harus) Ngeblog

5 Alasan Seorang Dokter (Harus) Ngeblog


5 Alasan Seorang Dokter Harus Ngeblog
Dewasa ini, kemajuan teknologi informasi semakin pesat. Internet bukanlah barang “mewah” lagi bagi masyarakat. Siapapun bisa mengaksesnya dan dimana saja selama koneksi internet tersebut ada. Banyak orang yang memanfaatkan kemajuan tekonologi informasi untuk melakukan banyak hal. Di media sosial seperti facebook misalnya, orang-orang tidak hanya sekadang bersosialisasi tetapi juga menjadikannya sebagai tempat untuk menambah ilmu atau meraup rupiah. Begitu juga dengan blog, blog tidak hanya tempat para ibu-ibu menuliskan tips parenting, atau para pejalan menuliskan tempat yang telah mereka singgahi, tetapi blog kini menjadi tempat orang mencari rezeki dan mengumpulkan berbagai macam referensi. Termasuk referensi tentang kesehatan.

Sayangnya, kebanyakan informasi kesehatan yang didapatkan oleh para pengguna internet sangat text book atau informasi yang belum tentu benar dari blog-blog yang tidak jelas siapa pemiliknya. Oleh karena itu, sebagai seorang dokter, saya merasa perlu memiliki blog khusus tentang kesehatan dan menuliskan beragam informasi yang berhubungan dengan dunia yang saya geluti dalam bahasa blogger yang renyah dan mudah dipahami oleh pembaca.

Berikut adalah 5 alasan seorang dokter harus ngeblog:


1. Untuk mempraktekkan ilmu kedokteran


Siapa bilang tempat praktek dokter itu hanya di rumah sakit atau klinik? Blog juga bisa menjadi tempat seorang dokter untuk berbagi ilmu yang ia miliki. Lewat tulisannya di blog, seorang dokter bisa membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya.

Penelitian membuktikan bahwa 72 persen orang mencari informasi kesehatan lewat media online dan 8 dari 10 orang memulai pencariannya lewat mesin pencari (search engine). Perlu diketahui bahwa kebanyak pengguna internet hanya mengklik tulisan yang ada di halaman pencarian Google. Jadi, seorang dokter blogger haru rajin menulis dan membuat tulisannya muncul di page one Google. Setiap saat Google bisa menggantikan alogoritmanya, dan terbukti blog yang ditulis secara reguler dan membagikannya ke media sosial seperti G+ dapat membuat rangking tulisan kita semakin baik di mata Google.



2. Untuk Menambah Ilmu


Ketika menulis blog tentang kesehatan, seorang dokter tentunya menulis apa yang telah ia pelajari. Jika ia lupa akan suatu masalah atau ada pertanyaan dari pembaca yang ia tidak pahami, maka sang dokter harus belajar lebih banyak lagi agar ilmunya semakin bertambah. Itulah fungsi sebuah blog.



3. Untuk Berbagi


Penelitian yang dilakukan oleh Pew menunjukkan bahwa dari sekian banyak orang yang mencari informasi kesehatan secara online, mencari dokter adalah salah satu topik terbanyak. Dengan menulis blog, dokter bisa berbagi tentang ilmu yang ia miliki dengan pembaca blognya. Tidak hanya itu, dokter juga bisa saling berinteraksi dengan pembaca lewat komentar-komentar pada tulisan blog.



4. Untuk Mengarsip Informasi yang Berguna


Dulu, para dokter sering menuliskan informasi yang ia dapatkan hanya pada buku catatan. Tentunya informasi tersebut hanya bermanfaat untuk si pemilik buku dan tidak bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Kehadiran media sosial membuat tulisan yang ditulis oleh dokter menjadi sangat bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga untuk pembaca.



5. Untuk menunjukkan bahwa dokter juga manusia biasa


Dewasa ini tidak sedikit dokter yang menjadikan blog sebagai tempat terapi. Memang, komputer tidak bisa menggantikan sentuhan tangan manusia. Walaupun ingin selalu terlihat sempurna, terkadang dokter juga merasa lelah dan frustasi. Dokter adalah manusia, sama seperti manusia yang lain. Menulis bisa menjadi sarana para dokter untuk mengobati dirinya sendiri. Menulis puisi atau cerita pendek bisa menjadi ladang kita untuk melampiaskan emosi yang kita simpan. Lihat, tidak sedikit dokter-dokter yang juga berprofesi sebagai novelis.


Itulah 5 alasan seorang dokter harus ngeblog. Ngeblog tidak hanya menjadi sarana untuk berbagi ilmu tetapi juga menjadi tempat bagi seorang dokter sebagai sarana untuk menuliskan perasaan hati.